BAHAYA (MEMAKSAKAN) BILLINGUAL TERLALU DINI (Bacaan Bergizi & Penguat Hati)

KOLABORASI HADIRKAN RAGAM SOLUSI (Solusi untuk Materi, ataukah Menjalankan Amanah Allah SWT)
10/10/2019
CINTA YANG TERGESA-GESA?
29/10/2019

Ayah Bunda,
Ketika membesarkan Ananda, orang tua tanpa sadar hanyut dalam tekanan dan tuntutan dari lingkungan, tergiur bahkan terintimidasi oleh lingkungan. Berlomba-lomba dalam segala hal, padahal Ananda baru berusia balita.

“Anak berada di periode emas, tak dapat terulangi lagi”.
Pernyataan yang direspon dengan salah kaprah. Bukannya melindungi mereka dari kerusakan mental jangka panjang, justru dijadikan ajang menumpahkan segala hal kepada mereka seolah mereka tak berhak merasa jenuh dan lelah.

Billingual, makin hari makin menjadi tuntutan yang lemah pengetahuan. Entah apa yang sedang dikejar hingga anak sedemikian digegas.

Bukankah mereka masih kanak-kanak…?
Sudah sedemikian hilangkah empati orang dewasa…?
Bukankah kita selayaknya merdeka dari ragam intimidasi dan tuntutan pendidikan yang tak terdidik…?

Billingual dianggap sebagai bukti kecakapan dan sebagai hal yang layak dibangga-banggakan. Orang tua menjadi teramat “visioner”, seolah Anandanya sesegera mungkin akan melanjutkan jenjang sekolah dan karir di luar negeri sana. Pendidikan hanya sebatas memenuhi kebutuhan industri dan digunakan oleh berbagai pihak yang memanfaatkan kekhawatiran orang tua.

Billingual di usia yang teramat dini, sebuah kebutuhan yang tepat ataukah sebatas keinginan dan hanya ikut-ikutan ?
Kita perlu berpikir dan merdeka dalam mendidik Ananda yha, Ayah Bunda…
Setiap kesalahan melangkah, maka anak akan menjadi korban atas segala ketidaktahuan pendidik (Guru & Ortu)

Usia dini, masa di mana anak perlu distimulus dan diizinkan asyik mengekplorasi yang memperkaya budinya dengan berbagai variasi subjek. Memaksakan fokus pada suatu bagian tertentu hanya akan memperlambat bagian lainnya. Keseimbangan dan porsi yang tepat wajib dikawal.

Tak sedikit ahli yang telah memaparkan bahaya dari billingual yang dipaksakan ini. Bukannya memperkaya kemampuan berbahasa, justru akan “membagi dua” kemampuan tersebut. Anak mampu bercakap-cakap tapi gagap dalam memahami apa yang ia sampaikan secara mendalam.
(Profesor Psikologi, Erika Hoff – Languange Development)

Ayah Bunda,
Daripada memaksakan ananda billingual teramat dini, lebih baik pastikan dan sediakan lingkungan keluarga yang memang fasih dalam billingual. Bukan melepas tanggungjawab dan menggiring anak sendirian. Mempelajari bahasa yang tak digunakan dengan benar oleh keluarga inti dan keluarga besarnya sehari-hari.

Terpapar berjam-jam di depan layar sudah membuat anak mengalami keterlambatan bicara. Lalu ditambah lagi tuntutan billingual…
Alangkah kasian menjadi generasi usia dini di zaman yang penuh kehausan berlomba-lomba…

Yuk, Ayah Bunda…
Berikan Kasih dan berikan Sayang yang Berpikir dalam mendidik Ananda…
Dampingi anak menggunakan “bahasa Ibu” hingga usia 8 tahun, ketika secara otak, ananda sudah lebih elastis. Kecakapan dan kedalaman kemampuan bahasa, bernarasi (bukan sebatas berkata-kata) juga modal penting baginya untuk berkarya. Kecakapan yang juga MEMBUTUHKAN kecakapan di bidang lainnya. Agar setiap narasinya berisi dan bergizi.

🍓Bangun hubungan yang dekat dengan anak hingga ia merasa hidup di lingkungan yang aman.


🍓Berdialog hangat, bacakan cerita-cerita yang menghidupkan rasa, imajinasi dan pikiran.

🍓Paparkan ia dengan suasana yang alami, bukan taman atau hutan buatan.

🍓Ajak ia memperhatikan berbagai fenomena dan kejadian.
Lalu, simaklah setiap percakapan yang ia ungkapkan. Ini jauh lebih CERDAS ketimbang memaksakan billingual. Kehebatan orang tua dalam mendidik tak sebatas tampilan dan postingan di sosial media atau obrolan membangga-banggakan di ruang arisan. Jadilah orang tua yang merdeka (dari tuntutan-tuntutan) yha, Ayah Bunda…

Selamat menapaki proses yang pastinya mengacak-acak emosi diri…
“Raising children is raising ourselves”
😊😊😊

Comments

comments

Comments are closed.

WhatsApp chat