Hentikan Lingkaran Kekerasan dalam Pendidikan. Guru dan Orangtua Perlu Ambil Peran & Tanggung Jawab

MEMUPUK JIWA KOLABORASI SEJAK DINI (Penerapan Karakter Inisiatif)
05/02/2018
MEWUJUDKAN PENDIDIKAN YANG TAK HANYA BERLANGSUNG DI ATAS KERTAS (Kolaborasi Peran Guru Dan Orangtua)
08/02/2018

Kita adalah guru yang merdeka, memilih menjalani ini karena cita-cita yang mulia.

1. Kita berkomitmen bahwa tujuan profesi ini tidak sederhana. Guru bukan sekadar membuat anak patuh pada peraturan, tetapi menumbuhkan tanggung jawab dari kesadaran; bukan hanya membuat anak pintar saat ujian tetapi meneladankan kebiasaan belajar sepanjang hayat.

Mari tanyakan pada diri sendiri, apakah kita sudah mengarah pada tujuan profesi tersebut?

2. Kita mandiri dalam menjalankan peran. Guru mempengaruhi iklim di kelas yang lebih nyaman serta aman buat semua dan setiap anak. Orangtua dan guru harus berhenti saling menyalahkan dan merasa jadi korban dari keadaan. Kekerasan bisa dan harus dicegah tapi bukan dengan menguatkan lingkaran kekerasan yang sudah ada dengan lebih banyak ancaman atau hukuman.

Mari tanyakan pada diri sendiri, apakah kita sudah mandiri mencari cara atau masih menyalahkan pihak lain?

3. Kita berani melakukan refleksi tentang tantangan dalam pekerjaan. Guru bercermin setiap hari tentang budaya sekolah, mencari umpan balik tentang capaian dan tidak melihatnya sebagai serangan. Setiap sekolah pasti punya sumber kekuatan yang bisa dimanfaatkan, apabila kita terus melibatkan lingkungan.

Mari tanyakan pada diri sendiri, kapan terakhir kita melakukan refleksi tentang strategi, praktik dan capaian belajar?

Kita adalah guru yang berdaya. Menggerakkan perubahan dengan praktik baik belajar-mengajar di dalam kelas yang terus disebarluaskan.

4. Kenali keunikan masing-masing murid, walau ia satu diantara puluhan yang lain, Anda adalah satu-satunya guru di kelas tersebut. Kekerasan selalu dipicu ketidakpedulian dan tidak manusiawinya hubungan di ruang kelas.

5. Pahami tujuan Anda mengajar dan pastikan semua murid paham tujuannya belajar. Kekerasan seringkali diawali proses pendidikan yang tidak bermakna dan tujuan belajar yang dipaksakan.

6. Tunjukkan perkembangan setiap murid sepanjang proses belajar, bukan hanya pada akhir semester atau tahun ajaran. Kekerasan kadang diperkuat oleh ekspektasi guru yang terlalu rendah dan rasa frustasi murid yang belum percaya pada dirinya sendiri.

7. Berikan tantangan dan pilihan belajar, apapun tingkat kesiapan anak. Kekerasan seringkali adalah usaha mencari kesuksesan atau kepopuleran bagi sebagian orang, yang tidak tersalurkan dalam ranah perilaku yang tepat.

8. Pastikan anak mendapat kesempatan berkontribusi pada komunitas, karena proses belajar butuh diterapkan di masyarakat. Lingkar kekerasan diperparah oleh lemahnya penjagaan lingkungan sekitar. Yakinlah, pendidikan bukan kerja keras kita seorang, tapi kolaborasi berbagai pihak.

Komunitas Guru Belajar – Kampus Guru Cikal

Comments

comments

Comments are closed.

WhatsApp chat