KOLABORASI HADIRKAN RAGAM SOLUSI (Solusi untuk Materi, ataukah Menjalankan Amanah Allah SWT)

PROSES BELAJAR ANANDA SULTAN (Perjalanan Menumbuhkan Kemandirian)
09/10/2019
BAHAYA (MEMAKSAKAN) BILLINGUAL TERLALU DINI (Bacaan Bergizi & Penguat Hati)
16/10/2019

Ayah Bunda,
Kehidupan ananda tak mungkin steril dari berbagai permasalahan. Hari ini dan nanti akan selalu ada tantangan dan konflik-konflik yang justru menjadi kesempatan baginya melatih diri.

Jika dulu persoalan ditakuti dan hanya mampu diselesaikan oleh sosok tertentu, maka hari ini berkolaborasi justru menjadi kunci menyelesaikan tantangan yang beragam.

Proses mendidik perlu dipastikan sebagai sesi memperkaya akal budi. Agar ananda memahami beragamnya tantangan. Sudah tak zamannya lagi ahli di satu bidang tertentu. Kehidupan dan bumi perlu dijaga oleh jiwa yang kaya asupan ide.

Maka, 360° hal yang ia temui mestinya menjadi stimulus yang kaya. Pendidik (ortu + guru) bertugas menyediakan asupan ide-ide bergizi lainnya. Bacaan yang berkualitas, puisi yang berkualitas, cerita yang berkualitas, tontonan yang berkualitas dan percakapan yang berkualitas. Seluruhnya semestinya mampu memantik jiwa anak.

Namun, kita perlu pula berhati-hati. Tak sedikit salah kaprah yang terburu-buru mengkarbit anak dengan fokus pada bidang tertentu. Padahal, maka kanak-kanak hingga remaja adalah masanya ia diasupi beragam ide bergizi. Salah kaprah ini tak lepas dari jebakan pemikiran utilitarian. Melihat anak sebagai “objek” dan “alat”. Pemikiran era revolusi terdahulu masih menjadi hantu.

Beberapa negara telah berhasil membebaskan diri dari jebakan yang melihat manusia sebagai alat, melihat alam sebagai alat. Jebakan yang memberikan label unggul – tak unggul, berguna – tak berguna. Jika tak ada gunanya, lalu disingkirkan dan hanya melestarikan yang dipikir ada gunanya. Alam diseragamkan, manusia diseragamkan.

Lalu orang tua?
Ikut terbawa-bawa karena lupa memikirkan pondasi, tujuan esensial dari sebuah proses mendidik jiwa manusia

Ayah Bunda,
Kita dan anak-anak kita dihadirkan sejenak di bumi ini adalah untuk menjalankan amanah Allah SWT. Bukan untuk memenuhi kepentingan industri semata.

Mari kita didik Ananda tanpa didikte oleh standar kehebatan matrealistis yang selalu berpikir “berapa kekayaan yang akan anak saya hasilkan nanti?”.

Mari kita ganti pertanyaannya dengan :
“Bagaimana anak saya bisa mampu menjalankan amanah dari Allah, bagaimana agar ia mampu menjadi diri dan keluarganya, bagaimana agar ia mampu menjaga bumi yang dititipkan padanya?”

Maka,
kolaborasi yang perlu dihidupkan bukanlah sebatas kolaborasi untuk kepentingan materi yang memuaskan nafsu diri dan menguras bumi, melainkan kolaborasi dalam menjalankan amanah Tuhan, pencipta alam semesta…

Comments

comments

Comments are closed.

WhatsApp chat