UMMATAN WASHATAN (Mendidik dengan Prinsip)

KEHADIRANMU MENYELESAIKAN PERSOALAN APA ? (Mengasah Kecerdasan Ananda Program Fullday)
04/11/2019
SUASANA (susahnya) BEKERJA & BELAJAR DI ALIFA KIDS (Panduan Sudut Pandang untuk Ortu)
08/11/2019

Ayah Bunda,
Tentu pernah mendengar istilah “parent centered” dan “children centered”. Dua sudut pandang yang mengajak orang tua berdiri di satu titik tertentu. Jika ibarat pendulum, ia akan terlempar dari satu titik ke titik lainnya.

Mungkin sebagian kita dahulu dididik dengan berpusat pada orang tua. Sudut pandang, gagasan, aturan dan keputusan berada di tangan orang tua. Anak sepenuhnya tunduk patuh dan tertutup ruang diskusi dan tak bisa berbagi persepsi. Wajar, karena anak dipandang sebagai pribadi yang kosong, bisa diisi apa saja sesuka orang dewasa. Atau anak dianggap sebagai pribadi yang teramat lentur, lalu dibentuk menurut kehendak orang-orang dewasa di sekitarnya. Keberadaan anak menjadi objek semata.

Namun, hari ini pendulum itu terlempar pula ke titik ekstrem berikutnya, segala berpusat pada anak.

Seolah semesta diminta tunduk patuh pada anak. Orang tua bahkan kehilangan otoritas sebagai sosok yang mestinya telah memiliki kebijaksanaan. Anak dipandang bak malaikat yang seolah tak berpotensi berbuat salah. Orang tua banyak takutnya dan serba salah. Tak heran jika adiksi gawai atau tantrum berkepanjangan, dan perilaku yang sulit mengikuti aturan, melanggar kesepakatan menjadi biasa terjadi.

Ayah Bunda,
Mari kita sama-sama bertumbuh. Membawa pendulum ini di titik tengah. Ayah Bunda tentu pernah mendengar tentang apa yang Allah SWT firmankan : “Ummatan Washatan”.

Menjadi pribadi yang moderat, berdiri di tengah, berlaku adil, berpegang pada prinsip. Semestinya, panduan ini mampu menjadikan kita sebagai pendidik (guru & ortu) yang bijak. Pendidikan yang berpegang pada prinsip, bukan berat sebelah.

Anak dididik untuk paham, mana yang aturan, mana yang kesepakatan, mana yang pilihan bebas. Dunia bukan tentang seleranya. Dan dunia bukan pula tentang kuasa orang tua.

Anak dilahirkan sebagai pribadi yang ‘utuh’. Dalam keutuhan ini, bersamanya dititipkan sukma kebaikan dan sukma keburukan. Sebagaimana yang Allah SWT pandu, untuk menjadi jiwa yang beruntung, hanya jika ia mampu mensucikannya (menjaga potensi kebaikan tumbuh subur). Sebaliknya, jiwa akan merugi jika ia mengotorinya (membiarkan potensi berbuat buruk tumbuh subur).

Ayah Bunda,
Inilah bagian tersulit dalam mendidik.
Bagian ini menuntut yang disebut dengan TELADAN.
Maka, kewajiban kita bersama untuk menciptakan lingkungan keluarga dan masyarakat yang menjadi contoh atau teladan bagi anak-anak kita.

Yuk, Ayah Bunda.
Bertindak nyata membangun lingkungan yang layak menjadi teladan. Dunia yang memampukan Ananda kita menjadi pribadi Mulia. Meskipun untuk itu, diperlukan kesabaran dalam proses membangunnya.

#VisiALIFA

Comments

comments

Comments are closed.

WhatsApp chat